Kudus – Sunan Kudus merupakan salah seorang Wali Songo yang meninggalkan gapura dan bangunan menara terbuat dari tumpukan batu merah yang mempunyai daya pikat sampai sekarang. Masjid kuno tersebut ramai dijejali para santri dan peziarah. Seperti Anto (27) seorang peziarah asal Pasuruan Jawa Timur yang sedang melihat-lihat di sisi gapura dalam masjid. Ia mengatakan sengaja mendekati gapura tersebut dengan maksud ingin melihat peninggalan Sunan Kudus lebih dekat.

Masjid dan menara peninggalan Sunan Kudus terletak di Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kudus, Jawa Tengah. Masjid ini kini menjadi salah satu tempat bersejarah penting bagi umat Islam di Jawa. Menurut sejarahnya, masjid tersebut berdiri pada 956 Hijriah atau 1549 Masehi dengan nama Masjid Al-Aqsa.

Berdasar cerita sejarah yang ada, adalah Ja’far Sodiq yang kemudian dikenal sebagai Sunan Kudus membawa kenangan berupa sebuah batu dari Baitul Maqdis di Palestina. Batu itu kemudian digunakan untuk batu pertama pendirian masjid yang kemudian diberi nama masjid Al-Aqsa di Kudus. Belakangan justru masjid tersebut populer dengan sebutan Menara Kudus.

Menara di sisi timur masjid tersebut memakai arsitektur bercorak Hindu Majapahit. Hal itu dinilai lekat dengan akulturasi budaya ketika masjid tersebut dibangun.

whatsapp-image-2016-08-06-at-10-54-471Staf Dokumentasi dan Sejarah Yayasan Masjid, Menara, dan Makam Sunan Kudus (YM3SK), Denny Nurhakim, saat ditemui, beberapa hari lalu mengatakan karena usianya, masjid Menara Kudus menjadi perhatian para peneliti dan pelancong manca negara. “Dalam berbagai catatan peneliti ditemukan cerita bahwa masjid ini selain masih mempunyai kaitan historis dengan penganut Hindu masa Majapahit, juga punya hubungan historis dengan bangsa lainnya di dunia,” jelas Denny. Semula Al Quds adalah Desa Tajug yang warganya penganut animisme dan agama Hindu. Kehadiran Sunan Kudus membuat banyak warga Tajug menjadi Muslim. Namun, warga yang mempertahankan keyakinannya tetap dirangkul Sunan Kudus. “Bahkan, untuk menghargai pemeluk agama Hindu, Sunan Kudus melarang warga menyembelih sapi, yang menjadi binatang suci dalam agama Hindu,” ungkap Denny.

Kapan waktu yang tepat mengunjungi Menara Kudus? Jawabannya adalah saat malam hari. Itu terlihat dari pengunjung yang terlihat sangat ramai. Akan terlihat hilir mudik orang pergi ke masjid untuk menunaikan salat, berziarah ke makam Sunan Kudus ataupun hanya sekedar berfoto ria di depan menara.

Kebanyakan dari pengunjung mengambil gambar dengan latar belakang Menara Kudus pada malam hari yang dianggap jauh lebih asyik. Saat malam hari, Menara Kudus terlihat kokoh saat diterpa lampu sorot dari berbagai sudut taman. Itu membuat menara tersebut menjadi obyek foto yang sangat di gemari pengunjung. Ingin juga berfoto pada malam hari di Menara Kudus? Jika berkunjung ke wilayah Semarang dan sekitarnya, jangan lupa mampir ke Kudus ya.

(Sumber : di sadur sepenuhnya dari Merdeka.com)