Semarang – Sedikitnya 35 elemen bersatu dalam deklarasi Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Semarang, Minggu (8/1). Mereka berkomitmen mengkampanyekan gerakan anti berita hoax yang cenderung memecah belah bangsa.

hoax-gubSemarang adalah satu dari enam kota yang menggelar deklarasi serentak 8 Januari. Enam kota tersebut yakni Semarang, Wonosobo, dan Solo untuk kawasan Jateng. Selain itu ada Jakarta, Surabaya, dan Bandung. Yogyakarta juga akan deklarasi pekan depan. Jika di Semarang ada 35 organisasi yang terlibat, maka total di Jateng yang mendukung lebih dari 100 organisasi.

Acara yang dimulai pukul 06.30 wib ini dilaksanakan di car free day Jalan Pahlawan, tepatnya di depan Kantor Gubernuran. Ratusan pendukung gerakan ini mengenakan kaos polo berwarna biru tua. Di dada sebelah kanan dan punggung tertera tulisan “Turn Back Hoax” berlatar belakang bangunan Lawangsewu. Tepat pukul 07.00 wib, Koordinator Gerakan Anti Hoax Semarang Farid Zamroni Mardiyansyah membacakan naskah deklarasi di depan ratusan anggota gerakan dan simpatisan.

“Menyatakan berdirinya Komunitas serta Gerakan Anti Hoax Semarang. Semoga Allah Yang Maha Kuasa masih melimpahkan cahayanya dari langit, untuk menerangi hati nurani sebagian besar anak bangsa Indonesia untuk tidak terjebak kabar bohong, untuk menolak segala jenis hoax, untuk menghindari segala ujaran kebencian, untuk meninggalkan semua majelis permusuhan. Karena kita satu bangsa, satu langit menaungi, satu ibu pertiwi menyayangi,” kata Farid dalam deklarasi.

Selanjutnya, enam tokoh membacakan prosa secara berantai berjudul Mengapa Kami Tolak Hoax. Di antara para pembaca ialah Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Ketua Kadin Kota Semarang Arnaz Agung, Sekjen Ikatan Guru Indonesia Mampuono, dan GM Star Hotel Semarang sebagai wakil Pegiat Wisata, Benk Mintosih.

Hentikanlah penyebaran berita permusuhan, adu domba, fabrifikasi cerita, kebohongan yang disebarkan lewat sosial media, dan lini-lini online berbasis ponsel. Demi masa depan kita, masa depan anak-anakmu, demi Indonesia. Agar kita bisa beribadah dengan tenang, memuja dan memuji Tuhan, atas nikmatnya pada negeri yang damai ini,” kata Ganjar yang didaulat memungkasi prosa.

Tepuk tangan bergemuruh begitu prosa selesai dibacakan. Acara dilanjutkan dengan penandatanganan dukungan kampanye oleh masyarakat. Gubernur dan perwakilan elemen didaulat sebagai yang pertama bertandatangan. Dilanjutkan para pendukung dan masyarakat umum. Sebagian warga terlihat berswafoto dengan latar belakang baliho tolak hoax atau alat-alat peraga yang disediakan panitia.

Ditemui wartawan usai acara, Ganjar mengatakan, Indonesia menduduki peringkat terbawah dalam kemampuan literasi. “Tapi di tingkat kecerewetan nomor lima di dunia. Jadi kita itu jago cerewet tanpa literasi,” katanya. Kondisi ini menjadikan mudah menyebarnya berita sumir, bohong, bahkan cenderung fitnah. Mayoritas masyarakat yang pada dasarnya sudah malas membaca menjadi mudah diprovokasi atau dipengaruhi kabar-kabar yang tidak benar.

“Maka saya titip, mulai pagi ini jaga perilaku kita, jaga omongan kita terutama dalam bersosial media. Hoax yang bikin hoek ini sudah meresahkan. Ayo berani jujur, jangan pakai anonim, tabayun dan demi Indonesia, hentikan penyebaran berita bohong,” tegasnya.

Farid Zamroni menambahkan, gerakan tidak berhenti hanya pada deklarasi. Namun berlanjut ke hal yang lebih penting yakni workshop dan edukasi tentang bagaimana menerima sebuah informasi. Sehingga, menurutnya seseorang tidak akan dengan mudah menyebarkan informasi yang tidak jelas sumbernya.

(Sumber : Merdeka.com/Diskominfo Jateng)