whatsapp-image-2016-10-16-at-05-47-20Sragen, Kesbang Pol – Gerakan revolusi mental yang dicanangkan oleh Presiden RI Ir H Joko Widodo untuk memperbaiki karakter bangsa, akan sulit berhasil jika hanya dilakukan pemerintah. Perlu dukungan dari seluruh elemen masyarakat, khususnya para ulama dan alumni pondok pesantren, untuk mensosialisasikannya.

Hal tersebut disampaikan oleh Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP saat memberikan sambutan dalam acara Halaqoh Himpunan Alumni al-Anwar Sarang (HIMMA) Jateng-Jatim di Desa Banaran Kecamatan Sambungmacan Kabupaten Sragen, Sabtu (15/10). Turut hadir dalam acara tersebut Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf dan Pengasuh Ponpes al-Anwar KH Maemun Zubair.  “Pemerintah ngomong sampai nyonyor lambene niki nek ora dirungokke nggih mboten bisa panjengan (ulama), alumni (ponpes) sing bergerak, bergerak bareng-bareng (Pemerintah bicara sampai miring bibirnya kalau tidak di dengar tetap tidak bisa. Yang bisa ya anda semua Ulama, Alumni Ponpes yang bergerak, bergerak bersama-sama – Red)” ajaknya.

Menurutnya, peran ulama, pondok pesantren dan alumni-alumninya untuk mengajak masyarakat berbuat baik dan bersikap nasionalis sangat diperlukan. Sebab, dalam sejarahnya, pondok pesantren memiliki peran besar dalam memertahankan kemerdekaan RI. Sayangnya, perjuangan para santri tersebut tidak tertulis dalam sejarah Indonesia.  “Bagaimana peran pondok pesantren dalam mempertahankan kemerdekaan. Ini nasionalisme dalam kerangka pondok pesantren, dalam kerangka kultural yang ada disana, dalam kerangka kontribusi.  Ini yang harus dijaga,” ujarnya.

Ganjar meyakini, dengan dukungan dari ulama dan pondok pesatren, berbagai perbuatan yang dapat merusak karakter bangsa dapat ditekan. Seperti pungutan liar, narkoba, pornografi, kekerasan terhadap anak dan perempuan, dan terorisme. Karenanya, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah saat ini sedang membangun program kerja sama dengan pondok pesantren, untuk mengurangi permasalahan yang ada di tengah-tengah masyarakat.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf mengatakan untuk mengubah moral masyarakat dibutuhkan pelajaran pendidikan agama. Tapi, itu saja tidak cukup. Menurutnya, perlu dukungan dari pondok pesantrem yang notabene mengkhususkan diri mendidik para santrinya untuk berada di jalan surga.  “Kita tidak bisa mengandalkan pelajaran agama di sekolah yang hanya tiga jam selama satu minggu. Ponpes tidak bertujuan meraih ijazah tapi meraih surga di jalan Allah,” katanya.

Politisi yang kerap disapa Gus Ipul ini juga menitipkan pesan kepada ponpes agar melindungi para santrinya dari narkoba yang peredarannya sudah masuk ke ponpes dan anak-anak. Selain itu juga mengawasi para santri dalam menggunakan kemajuan teknologi, yang rawan terhadap konten pornografi.  “Pornografi itu efek negatif dari kemajuan teknologi yang memicu kekerasaan terhadap anak dan perempuan, pemerkosaan dan LGBT. Jadi pondok pesatren harus ikut mengawasi,” tandasnya.

(Sumber : Biro Humas Prov Jateng/ Bid. Kewaspadaan Kesbang Jateng)