whatsapp-image-2016-10-04-at-13-23-52
Gubernur Jateng dan Menteri Koperasi dan UMKM RI

Pekalongan, Kesbang Pol – Praktik membatik mungkin bukan kali pertama dilakukan Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo. Tapi membatik bersama Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah RI Drs Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga di halaman Museum Batik Pekalongan, Selasa (4/10), tetap tidak langsung membuatnya lihai menorehkan cairan lilin ke kanvas berukuran 25×25 cm itu.

Ganjar harus memperhatikan benar instruksi dari petugas yang mendampingi. Mulai dari cara memegang canthing, posisi kain yang benar agar cairan lilin bisa menempel tepat pada pola, dan sebagainya. Namun tetap saja ada celepretan lilin di sekitar pola.

“Sulit ternyata……..Nyelepret-nyelepret. Sebenarnya kali kedua ketiga saya sudah tahu ini harus miring, posisi kain harus tegak, ditariknya dari atas ke bawah. Tidak terlalu sulit sebenarnya. Tapi butuh latihan presisi, butuh ketrampilan yang bagus,” bebernya.

Belajar membatik itu pun merupakan rangkaian acara Pekan Batik Nusantara 2016 dalam Rangka Menyambut Hari Batik Nasional VII yang pembukaannya dilangsungkan di Lapangan Jetayu Kota Pekalongan. Tidak hanya Ganjar dan Menkop UKM yang belajar membatik, istri Menkop, Ketua Dekranasda Provinsi Jawa Tengah Hj Atikoh Ganjar Pranowo, serta sejumlah pejabat dan istri duta besar negara tetangga ikut mempelajari cara menorehkan cairan lilin ke atas kanvas. Sama halnya dengan Ganjar, celepretan lilin banyak terlihat di kanvas mereka.

Menurut Gubernur, event Pekan Batik Nusantara dengan beragam kegiatan mulai dari pameran hingga belajar membatik, dapat dipakai untuk memromosikan batik. Khususnya di Kota Pekalongan. Namun, kegiatan itu saja tidak cukup. Pekalongan membutuhkan branding mengenai batik mereka. Sehingga saat orang datang ke kota itu, ada satu tempat tujuan yang bisa untuk melihat batik secara keseluruhan dengan kualitas tinggi, dan menjadi magnet wisatawan.

“Saya siap jadi promoter atau marketer untuk mereka. Sehingga saya seringkali membeli di beberapa tempat untuk saya pakai. Saya jadi manekinnya. Kalau media memfoto dan sebagainya terus dimuat, mereka akan mengklaim ini punyanya. Orang-orang akan bertanya pada saya, ini belinya di mana. Dan saat itu transaksi terjadi,” ujarnya.

Diakui perkembangan batik di Jawa Tengah sangat pesat. Tidak hanya di merepresentasikan kabupaten/ kota, batik sudah masuk pada level desa. Namun, hal tersebut mesti diimbangi dengan branding. Caranya dengan menyelenggarakan berbagai event tentang batik. Tidak hanya pameran produk batik, tapi juga carnival, membuat kue corak batik, minuman batik, dan masih banyak inovasi lain yang bisa dilakukan.

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah RI Drs Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga menambahkan nilai batik tidak hanya terletak pada produknya yang dipamerkan di mana-mana. Lebih dari itu, batik dapat menjadi media diplomasi untuk memperkokoh negara kesatuan Republik Indonesia.

Dia menunjuk contoh, batik tidak hanya digunakan di Jawa Tengah, tapi juga di seluruh wilayah Indonesia. Warga Papua, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan lainnya, sudah terbiasa berpakaian batik. Ini menunjukkan semangat nasionalisme batik yang luar biasa.

Batik, imbuhnya, juga menjadi bagian ekonomi kreatif, di mana dapat meningkatkan nilai tambah perekonomian masyarakat, dengan menyediakan lapangan pekerjaan bagi warga. Di sisi lain, pengrajin pun mesti meningkatkan kreativitasnya.

Keberadaan koperasi sangat diperlukan untuk membantu para pengrajin. Khususnya dalam akses permodalan dan pemasaran. Untuk itu pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UKM berupaya membatu memfasilitasi pengurusan akte pendirian koperasi. Dengan catatan koperasi tersebut benar-benar mau menjadi koperasi yang mandiri.

“Koperasi yang hanya mengandalkan bantuan tidak saya masukkan ke database. Kami juga bekerja sama dengan Kemenkum HAM untuk memediasi sertifikasi hak cipta dan hak merek tanpa biaya. Dulu pengurusannya lama sekali, bisa enam bulan dengan biasa Rp 4 juta. Tapi sekarang tidak bayar lagi. Satu produk selesai satu jam tidak perlu berbulan-bulan. Jadi sekarang banyak yang pada antre di kami,” kata Puspayoga.

Walikota Pekalongan HA Alf Arslan Djunaid SE menyampaikan pengakuan UNESCO terhadap batik Indonesia membawa manfaat yang besar dalam upaya pelestarian dan pengembangan batik, khususnya bagi masyarakat Pekalongan. Termasuk menjamin penghormatan kepada masyarakat, kelompok, dan individu yang masih memroduksi batik dengan cara tradisional.

“Jadi generasi muda yang cenderung untuk meninggalkan profesi mereka dalam pembuatan batik tidak akan lagi malu untuk memilih profesi mereka sebagai pengrajin batik, mengikuti jejak orang tua mereka dan nenek moyang,” bebernya.

Melalui event bertema Kibar Budaya, Jelajah Wastra yang berlangsung pada 4-9 Oktober tersebut diharapkan dapat memberikan ruang seluas-luasnya bagi perajin dan pengusaha batik Pekalongan. Sekaligus membumikan batik Pekalongan dengan melibatkan partisipasi masyarakat. Sebab kota itu merupakan sentra batik utama di Indonesia. Dan potensi pengembangan batik didukung keberadaan pengrajin yang andal, ketersediaan bahan baku, maupun distribusi pemasaran.

(Sumber : Biro Humas Prov Jateng/Bid. Wasnas Kesbang Jateng)