Semarang – Stok beras di yang berhasil diserap Perum Bulog Divre Jawa Tengah, tidak dibiarkan ngendon di gudang. Beras asal Jawa Tengah juga didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di provinsi lain, seperti Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.

sinung-n-rachmadi_-563x353
Sinoeng N.R, Kepala Biro Humas Setda Prov. Jateng

Kepala Biro Humas Setda Provinsi Jawa Tengah Drs Sinoeng N Rachmadi MM menyampaikan pengiriman beras ke luar provinsi melalui program “Move Nasional”, sebagai upaya pemerataan stok nasional, dalam rangka mendukung pilar keterjangkauan ketahanan pangan. Pada tahun ini, sebanyak 3.000 ton beras dikirimkan ke Kalimantan. Terdiri dari 2.000 ton beras dari Subdivre Pati ke Kalimantan Tengah, dan 1.000 ton beras dari Subdivre Semarang dengan tujuan Kalimantan Barat. Pengiriman dilakukan secara bertahap sebanyak tiga kali.

Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP juga berkesempatan melepas beras program Move Nasional yang dibawa kapal KM Meratus Katingan tersebut di Dermaga Terminal Petikemas Semarang, Jumat (2/9) pagi. Beras sebanyak 1.000 ton itu selanjutnya didistribusikan ke Kalimantan Tengah.

Ditambahkan, pengiriman beras ke provinsi lain itu tidak lepas dari upaya penyerapan beras yang dilakukan Perum Bulog Divre Jawa Tengah. Di mana hingga 15 Agustus lalu realisasi pengadaan gabah/ beras mencapai 408.166 ton atau 80,84 persen dari target 505.000 ton. Sementara, perkiraan panen pada Agustus-Desember mendatang sekitar 475.933 hektare dengan pengadaan 2.000-2.500 ton beras per hari. Artinya, penyerapan sampai akhir tahun ini diperkirakan mencapai 538.761 ton atau 107 persen dari target.

“Secara umum, stok beras di Jawa Tengah dinyatakan aman hingga tujuh bulan mendatang. Bisa dikatakan, stok beras aman sampai tiga bulan pertama pada 2017. Kondisi itu sudah memenuhi syarat jika dilakukan pemerataan stok ke daerah yang tidak menjadi sentra produksi beras,” beber Sinoeng.

Beras yang disalurkan tersebut adalah dengan kualitas medium. Selanjutnya beras itu digunakan untuk penyaluran beras bersubsudi bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.

“Artinya, produksi gabah/ beras di Jawa Tengah surplus, sehingga bisa digunakan untuk mendukung pemenuhan pangan di provinsi lain. Tapi kami tetap akan terus berupaya meningkatkan produksi bahan pangan, tidak hanya beras. Dengan begitu dapat menekan impor pangan dan mencapai kedaulatan pangan di negara ini,” tandasnya.

(Sumber : Biro Humas Prov Jateng)