untitledKesbang Pol – Kegandrungan pada tanaman tembakau melanda Eropa sekitar abad 19. Bahkan di Amerika, tembakau atau Tobacco dalam Bahasa Spanyol, telah lama digunakan sebagai entheogen atau substansi psikoaktif yang digunakan untuk keperluan religius dan spiritual. Pengusaha Portugis membawa tembakau ke Indonesia pada zaman penjajahan. Tembakau cocok dibudidayakan di Indonesia karena tanah yang subur ditambah iklimnya tropis. Tanaman ini mulai dibudidaya pada zaman Belanda. Pembukaan lahan perkebunan tembakau dilakukan di mana-mana dengan sistem kerja paksa cultuursteel. Tembakau pun menjelma menjadi komoditas bernilai tinggi dengan kualitas nomor wahid.

“Kita punya tembakau terkenal seperti srintil dan deli,” kata Alfa dari Komunitas Kretek Indonesia sebagaimana di lansir media daring Merdeka.com, akhir pekan lalu.

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara penghasil tembakau terbesar di dunia. Tidak hanya itu, Indonesia juga dikenal Kretek atau produk olahan tembakau yang dicampur dengan cengkeh. Kretek merupakan warisan budaya leluhur Indonesia. Hampir tidak ada negara lain yang memproduksi kretek.

“Kita satu-satunya penghasil kretek. Di negara lain ada pabrik rokok tapi bukan kretek,” jelas dia.

Istilah kretek tidak bisa dilepaskan dari sejarah tembakau Indonesia. Kretek diambil dari bunyi yang dihasilkan dari tembakau bercampur cengkeh yang dibungkus daun jagung kering. Ketika dibakar dan diisap, tembakau dan cengkeh itu berbunyi kretek-kretek. Sejak saat itu istilah kretek digunakan untuk produk olahan tembakau dan cengkeh. Pembuatannya pun berbeda dengan produk olahan tembakau lain. Kretek tidak dibuat menggunakan mesin, melainkan tangan halus perajin.

Ada dua versi tentang asal-usul kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Pertama berangkat dari cerita rakyat Roro Mendut dan kisah sembuhnya H. Jamhari dari penyakit asmanya.

Dalam cerita rakyat Roro Mendut yang termaktub pada Babad Tanah Jawi, Indonesia telah mengenal kretek sejak Kerajaan Jawa pada abad ke-17. Alkisah, Roro Mendut memiliki kecantikan yang memukau semua pria, termasuk panglima perang Sultan Agung dari Kerajaan Mataram, Tumenggung Wiraguna. Wiraguna diceritakan meminang Roro Mendut. Rupanya pinangan Wiraguna ini ditolak Roro Mendut. Sang gadis menjatuhkan pilihan pada pemuda lain yang sudah lama didambakannya. Tumenggung Wiraguna murka. Dia lantas mewajibkan Roro Mendut membayar pajak kepada Kerajaan Mataram. Roro Mendut mengumpulkan uang dengan berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan jilatan air ludahnya sendiri.

h4.1611wok.Sebuah+hadiah+sepeda+yang+diberikan+kepada+pembeli+rokok+bal+tiga+setelah+diundi
Foto : Nitisemito

Kisah lainnya, riwayat kretek diyakini bermula dari penemuan H. Jamhari pada kurun waktu sekitar akhir abad ke-19. Kisah Jamhari yang hidup di kalangan para pekerja pabrik rokok ini masuk dalam buku ringkasan sejarah Hikayat Kretek karya sejarawan Amen Budiman dan Onghokham.

Diceritakan, Jamhari menderita sakit asma yang membuatnya kesulitan bernapas. Untuk mengobati penyakitnya, Djamhari bereksperimen mengoleskan minyak cengkeh di bagian dada dan punggungnya. Eksperimen itu berhasil. Sekalipun tidak sembuh sama sekali, Jamhari merasakan napasnya kembali ringan. Dia lantas mencoba mengunyah langsung bunga cengkeh dan mendapatkan hasil yang jauh lebih baik. Penyakit asmanya berangsur membaik. Dia kembali bereksperimen meracik cengkeh halus-halus dan mencampurnya dengan tembakau. Lalu dilinting menjadi rokok. Setelah rutin mengisap rokok buatan sendiri, penyakit sesak napas Jamhari pun sembuh. “Karena waktu itu ia termasuk salah satu tokoh yang terpandang, maka cerita itu disebarluaskan ke masyarakat setempat,” cerita Alfa.

Kenikmatan mengisap racikan Djamari ini pun tersebar luas. Jamhari kewalahan melayani permintaan atas temuannya itu. Mulanya rokok lintingan Jamhari disebut rokok cengkeh. Tapi sebutannya berubah ketika orang mendengar bunyi kretek-kretek saat rokok dibakar dan diisap.

750xauto-konflik-keluarga-sebabkan-industri-kretek-nitisemito-runtuh-3-habis-1603162
Foto : Industri Rokok NV. Bal Tiga

Ide Djamari meracik rokok kretek dipatenkan Nitisimo dari Kota Kudus. Dialah orang pertama yang memberi merek pada kretek buatannya dan menjualnya secara bebas. Pada 1908, Nitisemito mendaftarkan merek NV.Bal Tiga Nitisemito sebagai perusahaan produsen kretek. Dia mendaftarkan ke pemerintah Hindia Belanda. Dengan desain dan kemasan produk yang menarik, dalam sekejap kretek cap Bal Tiga menjadi raja di dalam negeri.

Rokok kretek menjadi terkenal di mata dunia berkat kebiasaan KH Agus Salim merokok. KH. Agus Salim yang kala itu menjabat sebagai diplomat mewakili Presiden Sukarno dalam acara penobatan Ratu Elizabeth II sebagai Ratu Inggris di Istana Buckingham tahun 1953. Di acara itu, Agus Salim melihat Pangeran Philip tampak canggung menghadapi khalayak hadir. Dia lantas menyalakan kretek, lalu mendekati Pangeran Philip. Di sekitar hidung Pangeran Philip, Agus Salim mengayun-ayunkan kreteknya.

Dia lantas bertanya, “Adakah Paduka mengenali aroma rokok ini?”. Pangeran Philip menghirup-hirup aroma kretek Agus Salim. Setelah beberapa saat dia mengaku tidak mengenali aroma tersebut. Agus Salim tersenyum lalu berkata, “Inilah sebabnya 300 atau 400 tahun lalu bangsa Paduka mengarungi lautan dan menjajah negeri kami,” tutur Alfa menirukan jawaban Agus Salim.

Agus Salim selalu berada di barisan terdepan membela kretek karena ini adalah warisan asli Indonesia. The Grand Old Man, julukan KH. Agus Salim, memang dikenal cerdas dalam menyampaikan kritik tajam dan pedas. Dia sekali lagi membuktikan itu di Istana Buckingham jika kretek tak lain adalah cengkeh, tanaman asli Nusantara, tepatnya Kepulauan Maluku.

(Dilansir Merdeka.com dan media lain)