senyum-indonesia
Senyum Indonesia

KUDUS – Ketika bangsa ini menggelorakan genderang perang melawan penjajah melalui serangkaian pergerakan nasional, KHR. Asnawi menyambutnya dengan tindakan kongkrit pendirian Madrasah Qudsiyyah pada 1337 H, yang bertepatan dengan 1919 TU (komunitas Menara Kudus lebih memilih istilah Tahun Umum [TU] sebagai penanda bahwa tahun masehi adalah perhitungan umum). Pendirian Qudsiyyah sebagai Madrasah, bukan pesantren, sebagaimana layaknya lembaga lain yang saat itu bediri, menunjukkan bahwa KHR. Asnawi memiliki visi jauh kedepan untuk kemajuan bangsa. Visi kedepan KHR. Asnawi ini sempat membuat penjajah gusar dan menutup Qudsiyyah, Namun beliau tetap tegar melawan berbagai bentuk penindasan, dan tidak mau menyamarkan nama madrasah.

Ketegasan KHR. Asnawi ini adalah seri lanjutan dari ketegaran Kangjeng Sunan Kudus dalam menjaga bumi Kudus dari cengkeraman kekuasaan manapun. Kudus adalah kota suci yang harus tetap dijaga kesuciannya. Kudus tidak boleh dijamah oleh oleh tangan-tangan yang rakus kuasa. Kudus harus dirawat dan diruwat oleh manusia Gusjigang, –Bagus rupo bagus laku, pinter ngaji iso kaji ndue aji, lan pinter dagang.

Di titik kordinat ruang-waktu itulah Qudsiyyah dilahirkan. Qudsiyyah hadir sebagai jangkar bumi yang menjaga keseimbangan lahiriyah-bathiyyah, material-spiritual, timur-barat, dan berdiri tegak diantara tarikan ithraf-tatharruf. Qudsiyyah akan terus menjalani takdirnya sebagai penerus Kangjeng Sunan Kudus yang mengobarkan semangat kemandirian bagi santri, alumni dan warga masyarakat agar mereka memiliki harga (aji) dan pada gilirannya merasakan sirril ‘ula (rahasia kemuliaan). Inilah banyu panguripan (air kehidupan) yang akan terus mengalir (khudz badala) dari waktu ke waktu, dari generasi ke generasi, dari fenomena ke fenomena dan dari pergulatan massa dengan cahaya.
Dengan energi napak tilas laku kangjeng Sunan Kudus, karomah para muassis, ma’unah para masyayikh, berkah 100 khataman, fidyah bacaan 100.000x surat ikhlas, pancaran nur penulisan 30 juz al-Qur’an serentak dan iringan shalawat Asnawiyah, Qudsiyyah akan terus melangkah ke depan untuk merengkuh izuul islam wal muslimin dalam panji-panji ahlussunnah wal jama’ah. Qudsiyyah akan selalu di garda depan untuk mewujudkan Indonesia raya aman, diatas pondasi kebhinnekaan dan menerima secara tulus kehadiran masyarakat yang multi etnis multi religi.

Marilah kita bergandengan tangan, belajar mengesampingkan perbedaan dan duduk bersama dalam sebuah jagong kamulyan. Tantangan dan hambatan akan selalu ada, namun semua itu tidak begitu berarti manakala kita bersatu padu menyatukan potensi dan energi demi lahirnya Indonesia baru yang lebih baik.

Marilah kita memandang semua kejadian dengan nama Tuhan YME, belajar memandang manusia tanpa batas SARA, melihat alam semesta adalah karunia untuk seluruh generasi yang wajib di lestarikan hingga kapanpun. Semua tidak akan mudah, tapi demi Indonesia lebih baik Impossible is just a word. 

Bagimu Negeri Jiwa Raga Kami………….
Amin.