WhatsApp Image 2016-08-06 at 10.54.47
Menara Kudus sebagai tempat akulturasi multi etnis

SEMARANG – Dalam RPJMD Prov. Jateng 2013-2018, Badan Kesbang Pol dan Linmas Prov. Jateng, di beri beban yang cukup berat dan unik, yaitu Perubahan Perilaku Masyarakat Jawa TengahOutcomes ini cukup berat dan harus di laksanakan dan di selesaikan oleh Kesbang Pol Jateng dalam kurun waktu lima tahun sampai dengan Tahun 2018 (akhir masa jabatan Gubernur Ganjar Pranowo).

Jawa Tengah yang (katanya) inti dari Pulau Jawa, dengan komposisi masyarakat sangat heterogen, bukan tidak mungkin menyimpan bom waktu yaitu potensi gesekan antar masyarakat yang bersumber dari isu SARA. Peristiwa ’98 menjadi rujukan, dimana peristiwa-peristiwa serupa tidak lagi boleh terjadi di masa yang akan datang.

Outcomes di atas cukup menggelitik, dimana artinya masyarakat Jawa Tengah sudah mulai bergeser dan terdegradasi perilakunya, meninggalkan kaedah dan nilai-nilai tradisional (karena dalam breakdown RPJMD tersebut tertulis sifat kegotong-royongan dan tenggang rasa). Arti lebih lanjut lagi, Pak Gub Ganjar menilai masyarakat Jawa Tengah perlu dielingke sehingga kembali ke khittah (adat ketimuran) tanpa meninggalkan etos kerja dan terus meningkatkan potensinya dalam rangka penguatan daya saing. Lebih jauh lagi Gubernur menginginkan masyarakat Jawa Tengah, menggunakan kembali pola dan adat ketimuran dalam kehidupan sehari-hari.

 

Kami di Subbag Program Kesbang Pol Jateng pun segera melakukan metode trackback (metode dimana target sudah di canangkan, tetapi blm ada input). Percayalah, bahwa mengubah perilaku tidak semudah membalik telapak tangan. Segala daya upaya kami curahkan untuk menyusun rencana tindak, rencana aksi dan aksi nyata yang efisien dan efektif dalam menggiring masyarakat Jawa Tengah untuk setidaknya merenungkan kembali nilai-nilai kearifan lokal. Dan sejujurnya kami hampir-hampir tidak memiliki rencana yang bisa secara simultan di ukur hasilnya. Hampir pula Kesbang Pol Jateng mengajukan revisi RPJMD.

Kemudian Bangsa Indonesia di terpa berbagai macam peristiwa yang berintikan masalah SARA, mulai dari peristiwa Tolikara, deklarasi ISIS, Gafatar hingga yang paling akhir adalah peristiwa Tanjungbalai. Seolah tersadar bahwa ternyata saat ini manusia atau masyarakat Indonesia khususnya Jawa Tengah, tidak hanya degradasi, tetapi sudah merupakan perubahan perilaku. Penyebabnya bisa di tulis hingga ratusan halaman, tetapi penyebab utama adalah kurangnya komunikasi antar sesama secara langsung, di sebabkan oleh kemajuan teknologi dan media sosial.

Dalam hal ini media sosial bagai pisau bermata dua, semua orang bisa mengakses kapanpun dan dimanapun dengan berbagai macam interpretasi. Bisa menjadi baik, apabila di sikapi bijaksana, bisa sangat fatal apabila di sikapi salah. Hal inilah yang menyebabkan manusia Indonesia mengalami perubahan perilaku secara cepat, semua informasi yang di dapat dari media dianggap benar, tanpa di lakukan klarifikasi. Kita lupa bahwa musyawarah adalah tradisi bangsa kita, yang sudah ber abad-abad terbukti menyelesaikan semua masalah. Oleh karena itu rencana tindak paling mudah dan paling efektif adalah dengan menggalakkan kembali musyawarah serta gotong royong dalam segala sesuatu.

WhatsApp Image 2016-08-06 at 10.54.47(1)Suatu hari, KH. Abdul Jalil dan KH. Najib dari Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus, menghubungi penulis, mengenai event “Satu Abad Qudssiyyah”, sejujurnya penulis tidak mengharapkan hal yang lebih, selain proses seremoni yang monoton dan membosankan, tetapi atas dasar perintah atasan serta bujukan bahwa kegiatan lain dari pada yang lain, maka penulispun berangkat ke Kudus dengan banyak pertanyaan dan gagasan yang akan di lontarkan apabila nantinya betul hanya seremony yang membosankan. (bersambung…..)