“Struktur tercipta dari kultur. Apabila struktur mengalami deviasi maka sudah pasti kulturnya jauh bergeser”

(Jagong Kamulyan: 4 Agustus 2016)

 

 

kudus
Gerbang Megah Kabupaten Kudus

SEMARANG – Marilah sejenak kita kenal lebih dalam lagi mengenai Kabupaten Kudus.  Kudus adalah kota yang dibangun atas dasar keberagaman, baik ragam etnis, budaya dan agama. Perbedaan yang membuat Kudus yang hanya memiliki luas 425,16 KM2 ini kaya akan tradisi dan masyarakat yang heterogen. Sebagaimana Sunan Kudus, sang pionir yang menjadi cikal bakal Kota Kudus memiliki cara yang amat bijaksana dalam dakwahnya. Di antaranya, beliau mampu melakukan adaptasi dan pribumisasi ajaran Islam di tengah masyarakat yang telah memiliki budaya mapan dengan mayoritas beragama Hindu dan Buddha. Bukti pencampuran budaya Hindu dan Budha dalam dakwah yang dilakukan Sunan Kudus sampai sekarang pun masih, Menara Kudus.

Sunan Kudus membangun Kota Kudus dengan filosofi hidup Gusjigang, sebuah akronim yang telah menjadi spirit dalam kehidupan masyarakat Kota Kretek ini. Bagus, Pinter Ngaji, dan pinter Dagang telah menjadi “way of live” dinamika sosial kehidupan masyarakat. Nilai-nilai filosofis dalam Gusjigang inilah, yang menjadikan Kudus sebagai kota kecil mendapatkan tempat terhormat di mata publik, lantaran dalam perjalanan sejarah bangsa, Kudus memiliki peranan besar bagi perjalanan kehidupan bangsa.

Aplikasi dari Bagus terbukti baik fisik maupun etika masyarakat Kudus, sehingga Kudus juga dikenal sebagai Kota Santri yang menjunjung tinggi nilai-nilai akhlaqul Karimah. Ngaji ke Kota Kudus bukanlah hal asing bagi masyarakat Jawa mengingat begitu banyak pondok salaf dan Kyai kharismatik yang sanad dan karyanya tidak diragukan lagi. Kudus pula menjadi kiblat pendidikan formal di pantura timur Provinsi Jawa Tengah. Dalam hal pengembangan ekonomi, Frilosofi Dagang Kudus ditopang oleh keberadaan perusahaan-perusahaan besar skala nasional, bahkan internasional – PT. Djarum, PT. Pura, Polytron, Nojorono, dll, sehingga tingkat kesejahteraan masyarakat relatif baik jika dibanding dengan beberapa kabupaten/kota sekitarnya.

Tingkat pengembangan keilmuan yang baik dan perekonomian yang mapan di Kudus, tentu tidak terbentuk dengan sendirinya. Namun ada nilai-nilai atau spirit yang berkontribusi bagi pengembangan itu semua. Gusjigang, falsafah yang telah terinternalisasi pada alam pikiran masyarakat inilah, diakui atau tidak, telah menjadi inspirasi. Tidak sekadar menjadi cerdas, tetapi juga memiliki jiwa berdagang (entrepreneur) yang mumpuni.

menara
Menara Kudus malam hari

Kudus memiliki peninggalan sejarah yang sarat filosofi dan makna; Menara Kudus. Menara Kudus yang terletak di Desa Kauman ini merupakan cerminan riil warna warni Kota Kudus. Dengan tetap menghormati tradisi Hindu, bangunan Menara dibuat menghadap ke barat dan bentuknya menyerupai bangunan candi yang terbagi atas tiga bagian, yaitu: bagian kaki, tubuh, dan puncak. Para peneliti sepakat  bahwa Menara ini jelas bercorak mirip  bangunan candi atau menara kul-kul Bali. Beberapa peneliti menghubungkan bentuk Menara itu dengan candi Jago, terutama jika dilihat dari arsitektur dan kesamaan ragam hias tumpalnya. Ada pula yang menyamakan Menara Kudus ini dengan candi di Singosari. Di sebelah halaman, terdapat tempat wudlu. Menariknya, pada lubang pancurannya ada ornament berbentuk kepala arca yang berjumlah delapan. Delapan pancoran ini mengandung filosofi Astasanghikanarga dalam agama Budha, yakni pengetahuan, keputusan, perkataan, perbuatan, penghidupan, daya usaha, meditasi dan kontemplasi.

Fakta-fakta diatas, mengalir lancar dan deras dari penuturan dua tokoh Kudus (KH. Najib dan KH. Abdul Jalil). Seketika penulis terdiam, dan semua pikiran soal seremony yang kaku dan monoton, sirna, bahkan gagasan yang sudah penulis susun rapi pun, menjadi hilang tak berbekas. “Teras pripun saklajengipun Yai? (kemudian bagaimana selanjutnya Kyai-red)“, hanya itu yang bisa penulis ucapkan. Kedua tokoh tersebut silih berganti berbicara mengenai akulturasi ratusan tahun yang masih lestari sampai dengan sekarang di Kabupaten Kudus. Bukti paling sahih adalah ketika kaum NU (Nahdatul Ulama) ada acara, yang membacakan doa adalah kaum Muhammadiyah, begitu pula sebaliknya, kemudian setiap ada acara di Menara Kudus, penyumbang dana sebagian besar adalah etnis NON-MUSLIM!!!. Ini fakta yang sangat mengejutkan dan sangat luar biasa.

Ada tiga etnis besar di Kudus yang hidup saling berdampingan dan hampir tanpa gesekan yaitu Jawa, Arab dan Tionghoa. Ratusan tahun sejak Sunan Kudus, ketiga etnis ini hidup berdampingan dan memegang teguh prinsip ajaran Sunan Kudus – termasuk larangan menyembelih sapi. Bahkan menurut KH. Najib, dari jaman dulu sampai sekarang Tajuk (halaman) Menara Kudus tetap menjadi pusat akulturasi dan tempat bermain bagi ketiga etnis tersebut.

IMG_20160804_204722
Jagong Tanpo Kelas

Pada akhirnya acara “Jagong Kamulyan” terselenggara, orang-orang dari berbagai kalangan hadir, tokoh pengusaha, tokoh agama, tokoh masyarakat, pesantren, masjid, gereja, klenteng dan banyak lain hadir. Acara dengan konsep Jagong Tanpo Kelas (duduk tanpa memandang kelas-red), mengambil setting duduk tanpa alas. Dalam pertemuan atau acara tersebut hampir tidak ada tema yang menonjol, semua yang hadir dapat berbicara bebas, sehingga pokok pembicaraan berganti-ganti dari masalah ekonomi negara ganti sosial ganti agama dan terus berganti sesuai dengan keinginan peserta yang hadir (hampir sama seperti Ngobrol di warung kopi), yang di kendalikan oleh satu orang moderator.

Tetapi yang paling berkesan adalah hampir semua yang hadir memberikan testimoni betapa pada jaman dahulu, semua bisa bergaul tanpa batas tanpa memandang SARA. Struktur tercipta dari kultur, apabila struktur mengalami deviasi maka sudah pasti kultur sudah jauh bergeser, tandas KH. Abdul Jalil. Sehingga semua keputusan yang di ambil oleh struktur (birokrasi) akan berdasarkan pada kultur. Hal ini sejalan dengan pemikiran Plato, yang menyatakan bahwa struktur birokrasi (pada waktu itu) adalah orang-orang yang bersedia dan kober (sempat-red) untuk meluangkan waktu, pikiran, tenaga dan -mungkin- harta untuk mengurus komunitas (yang pada waktu itu semua berdagang). Sehingga struktur sangat terpengaruh oleh kultur yang ada pada masa itu.

Catatan buat kita semua, bahwa sejak kegiatan Jagong Kamulyan ini, semua tokoh di Kudus sepakat untuk melunturkan dan bahkan meruntuhkan semua pembatas yang berdasarkan pada SARA. Struktur birokrasi, ekonomi, sosial dan budaya sepakat untuk kembali kepada kearifan lokal Kanjeng Sunan Kudus, yang sudah terbukti baik. Apabila ini bisa di aplikasikan dengan baik, Pemerintah akan lebih mudah dalam mengatur Negara, masyarakat akan hidup lebih nyaman, dan ekonomi akan kembali di dasarkan pada kesejahteraan rakyat.

Alangkah indahnya kebersamaan tanpa memandang kelas…..Jagong Tanpo Kelas………………